Untukmu yang Bosan Menunggu

Menunggu, Katanya membosankan…

Menanti, Katanya menjemukan…

Benarkah?

Sebelumnya mari kita lihat,

Sebenarnya kita semua sedang menunggu..

Sebenarnya kita semua sedang menanti..

Seorang ibu hamil menanti kelahiran anaknya..

Seorang bapak bekerja menanti mendapatkan upah..

Seorang anak SD menunggu untuk tamat SD..

Seorang anak SMP menunggu untuk tamat SMP..

Seorang anak SMA menunggu untuk tamat SMA..

Mahasiswa menunggu untuk tamat Kuliah..

Sebenarnya kita semua sedang MENUNGGU…

Orang yang sakit menunggu untuk sehat..

Petani menunggu tanamannya agar bisa dipanen..

Seorang Pengusaha menunggu modal yang ditanamnya untuk mendapatkan hasil..

Sekali lagi, kita semua sedang MENUNGGU..

Dan Kita semua pun sedang MENANTI..

Namun, apakah kita semua merasakan bosan?

Apakah seorang ibu hamil merasa bosan lalu menggugurkan kandungannya?

Apakah seorang mahasiswa merasa bosan kuliah, lalu mundur sebelum lulus kuliahnya?

Adakah orang-orang semacam itu?

Kenapa tidak ada?

Karena selain menunggu, mereka juga aktif dalam kegiatan sehari-hari..

Mereka tidak memiliki waktu kosong..

Mereka tidak merenung..

Mereka tidak terpaku, terdiam, tapi ada yang mereka lakukan..

Ibu hamil menanti dengan memasak, menjahit, mencari ilmu, dan menjaga kesehatannya..

Petani menanti sembari mengerjakan hal lainnya.. Ia tidak duduk termenung dipinggir sawah sambil berfikir kapan sawah akan bisa dipanen.. Ada saja hal yang bisa ia lakukan..

Oleh karena itu mereka tidak bosan..

Jadi sebenarnya MENANTI tidak MEMBOSANKAN.. MENUNGGU tidak MENJEMUKAN..

Yang MEMBOSANKAN ialah KEHIDUPAN TANPA KEGIATAN.

Hidup tanpa aktifitas, merenung, terpaku, mematung, memandang langit, memandang dengan pandangan kosong..

Itulah yang membuat bosan..

Membuat kita merasa jemu..

Membuat waktu terasa lama..

Membuat waktu terasa panjang..

Itu yang membuat penantian kita terasa menjemukan..

Kita yang masih hidup ini pun sedang menanti..

Menanti datangnya ajal.. Menanti datangnya malaikat maut mencabut nyawa kita..

Lalu apakah kita melewati hari-hari tanpa kegiatan? Tentu tidak.

Kita menanti dengan melakukan ibadah sehari-hari..

Kita menanti dengan melakukan kegiatan sehari-hari..

Yang bermanfaat bagi kita..

Yang bermanfaat bagi teman-teman dan keluarga kita..

Sehingga penantian kita tidak terasa membosankan..

Karena penuh kegiatan dan ibadah yang bermanfaat bagi kita..

Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

Di antara orang-orang mukmin itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka (yang menepati janji itu) ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzab:23)

Kita yang masih hidup sedang menanti, menyusul mereka yang telah mendahului kita.. Maka apa yang akan kita lakukan dalam penantian ini? Jangan sia-siakan..

Jangan sampai penantian ini menjadi sangat membosankan, menjadi sangat menjemukan..

Penuhilah dengan aktifitas yang bermanfaat diri kita dan bagi umat islam.

Ustadz Muhammad Yassir, LC

dengan sedikit Penyesuaian.. (pen.-red)

Iklan

Cara Benar Dakwah Tauhid

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Kami sering mendapatkan pertanyaan yang membuat bingung sejumlah dai. Ada seorang yang tiba di sebuah negeri muslim akan tetapi kemusyrikan tersebar di negeri tersebut semisal orang yang melakukan kemusyrikan di dekat kubur dengan berdoa dan meminta bantuan kepada orang yang sudah mati. Dalam kasus ini timbul pertanyaan apakah cara dakwah yang tepat adalah mendakwahi mereka untuk mengerjakan shalat dengan baik dan membuat hati mereka untuk lapang dada menerima dakwah kemudian baru di kemudian hari baru ada penjelasan tentang kemusyrikan yang mereka lakukan dan mengajak mereka kepada tauhid yang benar ataukah langsung mendakwahi mereka kepada tauhid dengan menyampaikan bahwa meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati adalah kemusyrikan? Baca lebih lanjut

Pencetus Pertama Maulid Nabi

Oleh : Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc

A. Sejarah Perayaan Maulid
Diantara perayaan-perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131. demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain.
Baca lebih lanjut

Apa hukum merayakan Maulid Nabi?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.
Baca lebih lanjut

Bentuk Fisik Rasulullah SAW

Mengenal Bentuk Fisik Rasulullah

Syaikh Abu Zakariya an-Nawawi telah merangkum dalam Tahdzieb-nya sebuah pasal ringkas tentang ciri-ciri fisik Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. An-Nawawi meyatakan:

“Beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, tidak terlalu putih kulitnya dan tidak coklat, tidak terlalu keriting dan tidak lurus rambutnya.
Baca lebih lanjut